Cermin Buram Demokrasi

Bagikan Keteman :


Cermin Buram Demokrasi

Bayangkan ada seratus maling dan dua puluh orang jujur. Mereka mengadakan pemilu untuk menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin. Hasilnya sudah bisa ditebak—yang terpilih pasti dari kalangan maling, sebab merekalah yang menjadi mayoritas suara.

Atau bayangkan lagi, ada dua ratus juta orang bodoh dan seratus juta orang pintar. Mereka pun mengadakan pemilu. Maka hampir pasti, pemimpin yang terpilih bukanlah yang paling bijak atau paling berilmu, melainkan yang paling disukai oleh mayoritas—yakni oleh orang-orang yang bodoh itu.

Analogi ini sederhana, tapi tajam. Ia menunjukkan kenyataan pahit bahwa dalam sistem yang mengandalkan suara terbanyak, kualitas pemimpin akan selalu bergantung pada kualitas rakyatnya.


Cermin dari Kualitas Rakyat

Demokrasi sering diagungkan sebagai sistem terbaik di dunia modern. Ia memberi ruang bagi semua orang untuk menentukan masa depan mereka sendiri. Namun, demokrasi bukanlah sistem yang sempurna. Ia ibarat cermin—menampilkan wajah rakyat apa adanya. Jika rakyatnya baik, jujur, dan berakal sehat, maka pemimpin yang lahir pun akan baik, jujur, dan berakal sehat. Tapi jika rakyatnya malas berpikir, mudah dibeli suaranya, dan lebih percaya pada pencitraan ketimbang kejujuran, maka jangan heran bila yang muncul adalah pemimpin yang serupa: pintar bersandiwara, tapi miskin moral.

Dalam demokrasi, rakyat bukan sekadar penonton, melainkan sutradara. Namun bila sutradara itu buta naskah, tak paham arah cerita, maka drama kepemimpinan yang dihasilkan akan kacau—penuh tipu daya, janji palsu, dan tepuk tangan kosong.


Bencana Demokrasi Tanpa Pendidikan

Masalah terbesar dari demokrasi bukan terletak pada sistemnya, tetapi pada kesiapan moral dan intelektual rakyat yang menjalankannya. Demokrasi tanpa pendidikan hanya akan menjadi ladang subur bagi kebohongan dan pencitraan.

Ketika rakyat tidak terbiasa berpikir kritis, mereka mudah diperdaya oleh baliho, slogan, dan janji. Ketika rakyat tidak memiliki nurani bersih, mereka mudah menukar masa depan bangsa dengan amplop sesaat. Inilah bencana demokrasi tanpa kesadaran, di mana rakyat yang tertipu ikut menobatkan penipunya menjadi pemimpin.


Mencari Jalan Tengah: Antara Suara dan Nurani

Maka muncul pertanyaan: apakah demokrasi harus dibuang? Tentu tidak. Demokrasi tetap bisa menjadi sistem terbaik—asalkan rakyatnya menjadi manusia terbaik.
Pemilu bukan sekadar hitungan suara, tapi harus diimbangi dengan pendidikan moral dan kecerdasan publik.

Bangsa yang cerdas akan menilai bukan dari wajah di spanduk, tetapi dari rekam jejak dan kejujuran. Bangsa yang matang akan memilih bukan karena kedekatan, tetapi karena kemampuannya menegakkan kebenaran.

Di sinilah pentingnya sistem penyeimbang, seperti ahlul halli wal ‘aqd dalam tradisi Islam, atau meritokrasi yang menilai pemimpin berdasarkan kemampuan dan keteladanan, bukan popularitas. Suara terbanyak memang penting, tapi nurani dan akal sehat seharusnya lebih menentukan.


Penutup: Pemimpin adalah Bayangan Rakyatnya

Pada akhirnya, pemimpin hanyalah bayangan dari rakyat yang memilihnya.
Rakyat yang jujur akan melahirkan pemimpin yang amanah.
Rakyat yang bodoh akan melahirkan pemimpin yang menyesatkan.
Rakyat yang cinta uang akan melahirkan pemimpin yang gemar korupsi.

Sebelum menuntut lahirnya pemimpin yang adil, rakyat harus lebih dulu belajar menjadi warga yang adil. Sebelum ingin dipimpin dengan benar, rakyat harus lebih dulu benar dalam cara berpikir dan memilih.

Karena pemilu bukan sekadar mencari siapa yang paling banyak disukai,
melainkan siapa yang paling layak dipercaya untuk membawa bangsa ini ke arah yang benar.


By: Andik Irawan

Related posts

Leave a Comment